Adaptasi Kapasitas Aerobik diikuti oleh Adaptasi Persepsi Pengerahan Tenaga setelah Pelatihan Interval Intensitas Tinggi Selama 6 Minggu
DOI:
https://doi.org/10.52188/ijpess.v6i1.1955Kata Kunci:
Persepsi Pengerahan Tenaga, Detak Jantung, Latihan Intensitas Tinggi, Latihan Kondisi StabilAbstrak
Tujuan penelitian. Tantangan dalam memantau adaptasi latihan telah muncul seiring dengan permintaan akan pendekatan yang sederhana, tidak melelahkan, dan efisien, karena alat-alat standar dan canggih belum tersedia untuk atlet di daerah terpencil. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki peningkatan kapasitas aerobik maksimal termasuk denyut jantung (HR) setelah 6 minggu latihan interval intensitas tinggi (HIIT) yang juga merangsang adaptasi pada tingkat persepsi kelelahan (RPE) dan selanjutnya untuk mengamati korelasi antara adaptasi ini.
Bahan dan metode. Desain pra- dan pasca-eksperimental telah diterapkan pada enam belas orang dewasa sehat (21±1,1 tahun) yang menyelesaikan HIIT bersepeda tiga kali seminggu. Sebelum dan sesudah intervensi, peserta menjalani dua tes pada hari yang berbeda pada ergometer bersepeda yang terdiri dari tes maksimal inkremental untuk menilai denyut jantung maksimal (HRmax) dan output daya puncak (PPO) dan tes latihan kondisi stabil (SSE) 5 menit dengan beban kerja 40% dan 60% dari PPO untuk menilai denyut jantung saat berolahraga (HRexercise), %HRexecise dan skala RPE.
Hasil. Adaptasi HIIT meningkatkan PPO secara signifikan (P<0,001; d=0,41; 302±50,8 menjadi 322±50,9 watt) dan menurunkan HRmax (P=0,001; d=0,43; 188±8,53 menjadi 184±6,44 bpm). HRexercise diamati lebih lambat pada SSE 40% (P=0,005; d=0,55; 127±9,41 menjadi 122±11,9 bpm) dan SSE 60% (P=0,001; d=0,63; 153±11,7 menjadi 145±12,6 bpm). Adaptasi RPE menunjukkan penurunan pada SSE 40% (P=0,001; d=1,01; 10±1,25 menjadi 9±0,93) dan SSE 60% (P=0,001; d=0,97; 13±0,98 menjadi 12±1,41). Korelasi antara RPE dan HRexercise ditetapkan sebelum (r=0,55, P=0,001) dan setelah intervensi (r=0,61, P<0,001).
Kesimpulan. Adaptasi HIIT meningkatkan kapasitas aerobik yang dibuktikan dengan peningkatan PPO dan penurunan HRmax, yang terkait dengan peningkatan skala RPE dan HRexercise pada SSE 40% dan SSE 60%. Korelasi antara RPE dan HRexercise secara konsisten kuat sebelum dan setelah intervensi. Dengan demikian, temuan ini menunjukkan bahwa RPE dapat menjadi instrumen yang mudah dan hemat biaya untuk memantau adaptasi intensitas dan kapasitas aerobik.
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Hak Cipta (c) 2026 Heru Syarli Lesmana, Padli Padli, Endang Pati Broto, Mikkey Anggara Suganda, Andrew Rinaldi Sinulingga

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.



