https://journal.unucirebon.ac.id/index.php/jpe/issue/feedJurnal Pegolahan dan Sumberdaya Akuatik2026-02-13T00:59:06+00:00Admin Jurnal Pengolahan dan Sumberdaya Akuatiknurazizah.nasution@unucirebon.ac.idOpen Journal Systems<p>Jurnal Pengolahan dan Sumberdaya Akuatik (JPSDA) adalah jurnal yang diterbitkan <strong>Universitas Nahdlatul Ulama Cirebon </strong>yang mencakup bidang perikanan baik itu mengenai bahan baku, proses pengolahan, dan sumberdaya akuatik.</p>https://journal.unucirebon.ac.id/index.php/jpe/article/view/1966Pengolahan Bakso Ikan Lele (Clarias batrachus) Dengan Penambahan Pengawet Kitosan Pada Konsentrasi Yang Berbeda2026-02-12T22:36:37+00:00Nopan Mohamad Sofyanteninovianti.83@gmail.comTeni Noviantiteninovianti.83@gmail.comNurul Ekawatiteninovianti.83@gmail.comLusia Cipto Astutiteninovianti.83@gmail.com<p>Pengolahan perikanan merupakan upaya untuk memanfaatkan ikan agar dapat digunakan semaksimal mungkin sebagai bahan pangan. Produk olahan ikan merupakan salah satu produk yang diminati masyarakat luas karena mengandung gizi yang dibutuhkan bagi kesehatan, tetapi produk olahan ikan yang tidak mengalami perubahan baik rasa bentuk atau aroma akan kurang diminati konsumen. Produk olahan bakso merupakan produk makanan yang berasal dari campuran daging cincang dengan tepung atau pati dengan penambahan bumbu san bahan tambahan lain yang diijinkan. Pada proses pembuatan bakso, seringkali ditambah dengan bahan penggunaan nitrit dapat membahayakan dan bersifat toksik bagi tubuh. Oleh karena itu diperlukan bahan alami yang dapat berperan sebagai pengawet, salah satunya adalah kitosan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi penambahan kitosan terhadap umur simpan bakso ikan lele. Penelitian ini dengan 4 variasi konsentrasi penambahan kitosan yaitu 0 ml, 1,5 ml, 3 ml dan 5 ml dengan lama penyimpanan selama 3 hari. Berdasarkan hasil penelitian, variasi penyimpanan dan konsentrasi kitosan sangat berpengaruh pada warna dan tekstur. Perlakuan penambahan kitosan dapat memperpanjang umur simpan bakso pada suhu ruang hingga 2 hari, dengan konsentrasi kitosan yang optimal dan tidak terlalu mempengaruhi warna tampilan, kekenyalan, aroma, rasa serta telah melewati proses uji hedonik takaran yang tepat untuk bakso Ikan Lele adalah sebesar 3 ml.</p>2026-02-12T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pegolahan dan Sumberdaya Akuatikhttps://journal.unucirebon.ac.id/index.php/jpe/article/view/1967Preformulasi Serbuk Fe3+ (Besi) Dengan Pelarut Yang Berbeda Dan Mikroenkapsulasi Minyak Ikan Dengan Jenis Penyalut Yang Berbeda 2026-02-12T23:45:34+00:00Nur Azizah Nasutionnstnurazizah@gmail.com<p>Mikroenkapsulasi merupakan proses pelapisan atau penyalutan suatu partikel bahan inti dengan suatu polimer agar memiliki sifat fisik dan kimia yang sesuai. Mikroenkapsulasi terdiri atas dua bahan utama yaitu bahan inti dan bahan penyalut. enkapsulasi adalah metode penting untuk melindungi bahan volatile, bahan yang reaktif secara kimia atau bahan yang mengandung komponen yang sensitive terhadap pemanasan dan adanya bahan kimia. Tujuan dari praktikum ini adalah menentukan ukuran partikel serbuk Fe<sup>3+</sup> dan mengetahui ketebalan serta diameter bahan penyalut dari minyak ikan sebagai bahan inti dan larutan kasein dan karagenan sebagai bahan dinding (penyalut). Tahapan kerja meliputi penentuan ukuran partikel serbuk Fe<sup>3+</sup> dan mikroenkapsulasi minyak ikan. Hasil menunjukkan bahwa penggunaan pelarut HCl dapat memperkecil ukuran partikel serbuk Fe<sup>3+</sup>. Berdasarkan kelarutan partikel, permukaan serbuk Fe<sup>3+</sup> yang dilarutkan dengan menggunakan aquades memiliki ukuran partikel relatif besar, tidak beraturan. Permukaan serbuk Fe<sup>3+</sup> yang dilarutkan dengan menggunakan HCl memiliki ukuran partikel yang relatif kecil, beraturan. Permukaan serbuk Fe<sup>3+</sup> yang dilarutkan dengan menggunakan KOH memiliki ukuran partikel yang sedang dan tidak beraturan. Pada mikroenkasuplasi minyak ikan dengan berbagai jenis penyalut, yang menghasilkan diameter terkecil yaitu pada penyalut gabungan kasein dan karagenan pada menit ke 15 dengan rata-rata diameter sebesar 0,144 mm.</p>2026-02-12T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pegolahan dan Sumberdaya Akuatikhttps://journal.unucirebon.ac.id/index.php/jpe/article/view/1968Karakterisasi Mutu Bekasam Ikan Sepat Toakang (Helostoma temminckii) Dengan Penambahan Sumber Karbohidrat Berbeda 2026-02-13T00:31:10+00:00Meutia Mollyndameutiamollyuk@gmail.com<p>Bekasam adalah metode pengawetan ikan melalui proses fermentasi yang melibatkan bahan utama berupa ikan, garam sebagai pengawet, dan beras sebagai penyedia karbohidrat. Campuran ini kemudian ditempatkan dalam wadah tertutup kedap udara, seperti toples, dan dibiarkan selama beberapa hari hingga fermentasi selesai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak variasi jenis sumber karbohidrat berbasis beras terhadap kualitas kimiawi dan sensorik pada bekasam ikan sepat toakang (<em>Helostoma temminckii</em>). Pendekatan yang digunakan adalah eksperimen berbasis Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan konsentrasi sumber karbohidrat sebesar 50% dari bobot ikan. Perlakuan yang diuji mencakup empat varian, yaitu beras sangrai, nasi biasa, kerak nasi, dan tepung beras, masing-masing dengan tiga kali pengulangan. Aspek yang diamati meliputi kadar protein, kadar lemak, nilai pH, serta tingkat kelembaban. Hasil menunjukkan bahwa pemberian berbagai jenis sumber karbohidrat memberikan pengaruh nyata terhadap kualitas kimia dan sensorik bekasam ikan sepat toakang. Perlakuan terbaik diperoleh dari nasi sangrai, yang menghasilkan kadar protein 16,12%, kadar lemak 6,86%, kadar air 68,83%, serta penilaian warna yang seragam dan optimal, disertai aroma khas bekasam yang kuat dan menonjol. Secara keseluruhan, mutu bekasam ikan sepat toakang ini telah sesuai dengan standar Teknologi Kepala Perikanan Indonesia (TKPI) dan layak untuk dikonsumsi.</p>2026-02-13T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pegolahan dan Sumberdaya Akuatikhttps://journal.unucirebon.ac.id/index.php/jpe/article/view/1969Ekomorfologi Kepiting Bakau (Scylla serrata) Dan Kepiting Laut (Scylla oceanica) Di Kawasan Segara Anakan Cilacap2026-02-13T00:39:35+00:00Sunartonartosdp@gmail.com<p>Populasi kepiting di Perairan Mangrove Segara Anakan mempunyai habitat yang berbeda, yaitu pada perairan terbuka dan habitat hutan mangrove. Secara visual perbedaan kepiting bakau pada kedua habitat tersebut diduga disebabkan karena adanya pengaruh genetik dan lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kepiting laut (panjang dan lebar) dari <em>S. serrata</em> dan <em>S. Oceanica</em> di Segara Anakan, Cilacap. Jumlah sampel adalah 120 spesimen, terdiri dari 60 <em>S. Serrata</em> dan 60 S<em>. Oceanica</em>. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei. Sampel diambil dari nelayan di Desa Ujung Gagak. Data dianalisis secara statistik dengan menggunakan uji t. Sebelum diuji, data ditransformasikan secara terbalik menjadi distribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepiting laut <em>S. Oceanica</em> lebih pendek tetapi lebih lebar dibandingkan dengan <em>S. Serrata</em>, namun tidak berbeda secara statistik.</p>2026-02-13T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pegolahan dan Sumberdaya Akuatikhttps://journal.unucirebon.ac.id/index.php/jpe/article/view/1970Survei Tingkat Pengetahuan Dan Minat Pemuda Desa Klangenan, Kecamatan Klangenan, Kabupaten Cirebon Terhadap Kegiatan Budidaya Perikanan2026-02-13T00:59:06+00:00Fajar Hidayaturohmanfajar.hidayaturohman@unucirebon.ac.id<p>Sektor budidaya perikanan memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan dan perekonomian nasional, namun keterlibatan generasi muda dalam sektor ini masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tingkat pengetahuan dan minat pemuda Desa Klangenan, Kecamatan Klangenan, Kabupaten Cirebon terhadap kegiatan budidaya perikanan sebagai dasar penyusunan strategi pemberdayaan yang tepat. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan populasi seluruh anggota Karang Taruna Lestari sebanyak 45 orang yang ditetapkan sebagai sampel melalui teknik sampling jenuh. Pengumpulan data menggunakan kuesioner tertutup berskala Likert yang mencakup variabel pengetahuan dan minat terhadap budidaya perikanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan pemuda mengenai aspek teknis budidaya perikanan berada pada kategori rendah, yang tercermin dari minimnya pengalaman pelatihan maupun keterlibatan langsung dalam kegiatan budidaya. Sebaliknya, tingkat minat pemuda terhadap budidaya perikanan berada pada kategori tinggi, ditandai dengan adanya ketertarikan untuk belajar, mengikuti pelatihan, serta kesiapan untuk mencoba usaha budidaya ikan. Temuan ini mengindikasikan adanya kesenjangan antara minat dan pengetahuan yang perlu ditangani secara sistematis melalui program pelatihan, pendampingan, serta dukungan sarana dan permodalan.</p>2026-02-13T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pegolahan dan Sumberdaya Akuatik